Thursday, 20 July 2017

Think Twice

Think twice,
Saat setumpuk kata caci maki siap ditumpahkan
Sungguh pertanyakan pada diri sendiri, perlukah?

Think twice,
Saat jari sudah mengetik status atau post di sosial media
Coba tanyakan, apakah bermanfaat?

Think twice, Ketika hendak mengeluhkan sebuah peristiwa menyakitkan,
Coba tengok sejenak, jangan jangan masih lebih banyak sebab untuk bersyukur daripada mengeluh

Think twice, Ketika mulut hendak mengomentari tingkah laku atau penampilan orang lain, yang kurang pantas menurut kata hati,
Siapa tau ada hal lain yang membatasi pandangan kita, sehingga komentar kita pun sebenarnya tidaklah akurat
Jangan jangan, dia yang ingin kita beri komentar ternyata lebih baik daripada diri kita

Think twice, Saat mata tertarik pada sebuah benda di toko online, entah karena rupa atau diskonnya.
Jangan jangan kita hanya lapar mata

Think twice, think again. Ada banyak keputusan dalam hidup kita yang perlu mempertimbangkan second thought atau pemikiran yang kedua. Bukan hanya keputusan yang super besar, tapi bahkan yang terlihat mudah dilakukan. Membuat keputusan itu, konon katanya, membutuhkan latihan. Dan latihan sebaiknya dimulai dari hal yang kecil. Begitu?

Thursday, 15 June 2017

Bahasa Indonesia Baku (yang Terpinggirkan) di Kalangan Remaja

Saya suka mengamati bahasa yang digunakan oleh orang-orang di sekitar saya: keluarga, saudara, teman, tetangga, termasuk juga murid-murid saya di sekolah. Bahasa selalu menarik karena sifatnya yang dinamis; tidak stagnan. Belakangan saya tertarik dengan penggunaan bahasa baku oleh remaja, murid-murid yang saya ajar di sekolah maupun di tempat les. Berikut ada tiga 'kasus' yang menjadi bahan bakar tulisan saya kali ini.

Case #1
Seperti tidak akan hilang dari ingatan, saat seorang murid 'senior' menanyakan arti dari kata 'lengah' dan saya syok. Bukan apa-apa, tapi saya mengira, 'lengah' adalah sebuah kata yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Kalaupun tidak digunakan sehari-hari, tetapi di lingkungan pendidikan, kata ini sering muncul di mata pelajaran pendidikan agama atau bahasa Indonesia.

Case #2
Di lain hari, saya mengoreksi tulisan murid yang ketika membacanya, saya berulang kali mengernyitkan dahi karena melihat susunan kata di tulisan tersebut: acak-acakan secara tata bahasa; sehingga membutuhkan sejumlah waktu untuk memahami maksud si penulis. Oh by the way, tulisan tersebut berbahasa Inggris. Saya pun berprasangka buruk bahwa si murid ini menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan tulisan berbahasa Indonesia-nya ke dalam bahasa Inggris. Langkah ini banyak ditempuh oleh mereka yang sedang dalam proses belajar bahasa.

Permasalahannya bukan terletak pada metode apa yang digunakan untuk menerjemahkan, tetapi lebih pada susunan kalimatnya. Setelah membaca tulisan murid saya di atas, iseng-iseng saya masukkan kalimat yang saya sebut acak-acakan tadi; English ke Indonesia. Hasilnya? Saya mendapati kalimat yang tidak baku di sana. Artinya bisa sekali dimengerti; karena memang itu bahasa sehari-hari. Sayangnya, Google Translate (mungkin) tidak kenal dengan bahasa non-baku, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tata bahasa di bahasa yang dituju (bahasa Inggris).

Case #3
Belum lama ini, saya menjadi pengawas di ujian kenaikan kelas. Sebagaimana biasanya, saya mengumpulkan lembar jawab pilihan ganda dan esai; dan memeriksanya sekilas. Mata saya tertambat pada sebuah kata 'ngedzolimin' di sebuah lembar jawab ujian. Jelas ini bukan bentuk kata baku. Mungkin saya yang kurang update, tetapi jawaban ujian biasanya menggunakan bahasa baku; bukan bahasa percakapan. Selain itu, saya juga menemukan penulisan kata 'kalau' yang ditulis ala bahasa chatting, yaitu 'kalo'.

Pembahasan
Secara keseluruhan, berdasarkan tiga peristiwa di atas; ditambah pengalaman interaksi sehari-hari dengan para remaja ini, saya menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia -yang notabene bahasa nasional di negeri ini- tidak lagi terlalu akrab dengan para remaja. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa percakapan yang bersifat non-formal alias tidak baku. Hal ini juga sejalan dengan terus bertambahnya kosa kata baru yang tidak termasuk tidak baku. Alhasil, ada sejumlah kata baku (dan tertera di Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang sangat jarang dipakai atau bahkan tidak dikenal oleh remaja masa kini.

So what? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penggunaan bahasa percakapan yang tidak baku. Bahkan di pergaulan jaman sekarang, mereka yang memakai bahasa baku dalam interaksi sehari-hari mungkin akan menjadi bahan olok-olok teman sebayanya, atau paling tidak akan disebut 'tidak lazim'. Yang salah adalah ketika mereka (pengguna bahasa non-baku) ini tidak lagi bisa membedakan waktu yang pas; kapan harus memakai bahasa baku atau bahasa percakapan. Padahal, di masa mendatang, ketika mereka kuliah atau bekerja, mereka harus bisa menggunakan bahasa Indonesia baku yang baik dan benar; untuk menulis makalah, surat, dan sebagainya.

Bagaimanapun, berbahasa adalah tentang kebiasaan; apa yang biasa kita ucapkan atau kita pakai, itulah yang akan sering kita pakai. Jangan-jangan, saking terbiasanya dengan bahasa percakapan yang tidak baku, bahasa Indonesia baku jadi terlupakan. That's what I am worried about.

Saturday, 20 May 2017

Of What So Called "Challenge"

Challenge, atau tantangan, adalah sebuah kata sakti bagi beberapa orang. Entah siapa saya tidak tahu, tetapi setidaknya itu berlaku bagi saya. Maksudnya sakti? Well, tantangan membuat saya termotivasi untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan, atau melakukan sesuatu dengan cara yang 'lebih': lebih sering, lebih tepat waktu, lebih banyak, dan sebagainya.

Seperti beberapa bulan yang lalu, kakak saya memberikan tantangan untuk menulis minimal dua post di blog masing-masing; dengan sistem reward -yang didapatkan dengan menulis sejumlah post- dan punishment -jika menulis kurang dari dua post. Alhasil, saya pun berusaha untuk lebih rajin mencari ide untuk menulis sesuatu. Meskipun belakangan tantangan ini memudar kesaktiannya (ehm), tapi setidaknya dia pernah menjadi pelecut semangat.

Di dunia kerja bagian pendidikan yang saya jalani, selalu ada tantangan ketika menghadapi murid; berupa pertanyaan dan keinginan 'membahagiakan' murid di waktu belajar mereka. Secara otomatis, dua jenis tantangan ini membuat saya memaksa diri untuk lebih banyak membaca dari berbagai sumber. Memaksa diri itu tidak selalu buruk lho, by the way; asal tujuan dan caranya baik.

Dari pengalaman sendiri, saya pun hobi memberi challenge untuk murid saya. Contohnya, tantangan untuk menjelaskan materi baru -yang mereka cari sendiri di internet atau buku- kepada teman-temannya, mencari atau membuat puisi yang berhubungan dengan topik yang dibahas untuk kemudian dibacakan di depan kelas, kuis tebak arti kata dari vocabulary yang sudah pernah mereka baca, berbicara selama satu menit dengan topik yang sudah ditentukan secara spontan, dan sebagainya. Harapannya, tentu supaya mereka melakukan 'lebih'. Meskipun pada akhirnya tidak semua terkena efek sakti dari challenge saya; tetapi setidaknya ada sejumlah murid yang kemudian melakukan hal 'lebih' sesuai harapan saya.

Dan hari ini, sudah sepekan lebih saya melewati hari tanpa mengisi blog maupun menulis sesuatu di buku jurnal, saya merasa sudah saatnya kembali mencari tantangan.  

Something like this, perhaps?
I'll make my own

Sunday, 7 May 2017

Hujan: Dibenci dan Dicintai

"Yaaah...ujan"
"Alhamdulillah ujan"
"Untung ujan!"
"Ujan, ga jadi jalan-jalan deh kita"
"Ujan-ujanan yuk!"
"Hmmm...bau tanah basah. Enak!"
"Bikin teh panas enak nih, ujan-ujan"
"Ujan?? Padahal baruu aja jemur"
"Duh, bakal macet nih pasti kalau ujan begini".

Saat titik titik hujan  mulai turun, akan ada berbagai kata yang manusia ucapkan; manakah yang lebih sering kita ucapkan?
----
Hujan, keberadaannya dibenci tetapi juga dicintai. Seperti halnya matahari. Dan dua-duanya tak peduli apa anggapan yang tertuju kepadanya; mereka akan tetap ada karena sudah ditugaskan oleh Sang Pencipta mereka.
----
Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi sebuah tempat wisata. Bersama saya, anak-anak remaja yang baru usai berjuang menghadapi ujian. Sampai di tujuan, hujan mendadak turun. Nggak mendadak juga sebenarnya, karena sebelumnya sudah ada sinyal berupa langit yang mendung.

"Coba kalau nggak hujan ya, miss, kita bisa main ini itu. Kenapa sih mesti ujan?" Kira-kira seperti itu gumaman anak murid saya saat kami berjalan bersama menggunakan payung menerobos hujan, demi melihat-lihat sekitar lokasi wisata. Saya tertawa pelan; menyadari bahwa saya juga sempat terlintas hal yang sama.

"Padahal hujan kan berkah ya, miss, tapi kan kalau kaya gini kadang sebel juga", satu kalimat lagi dari si anak murid. Dan satu lagi anggukan saya meng-amin-i kata-katanya. Kami lalu mengobrol, sedikit tentang hujan, mencoba berdamai dengan hujan yang 'mengganggu' agenda wisata kami.

brilio.net
Di ujung gerbang, ketika kami harus mengembalikan payung kepada si penyewa, terdengar lagi satu celetukannya semacam ini "Ujan begini emang rejekinya yang nyewain payung ya". That's it!

Sungguh, pengetahuan kita sangatlah terbatas ya. Ketika kita mengira sesuatu yang terjadi membuat kita merugi; ternyata di sisi lain, dia memberi kebahagiaan untuk orang lain; mungkin di sisi dunia yang sedikit berbeda dengan kita.

Hujan yang dicaci oleh sejumlah orang, ternyata membawa berkah, rezeki bagi adik-adik dan bapak-bapak yang menyewakan payung sore itu. Begitu pula dengan sejumlah penjaja makanan dan minuman. Mereka mendapat rezeki lewat pengunjung yang ingin mencari kehangatan atau sekedar mencari tempat berteduh.

Allahumma shoyyiban naafi'an. Ya Allah, turunkahlah hujan yang bermanfaat. (

Thursday, 4 May 2017

Wisata Buku 24 Jam: Big Bad Wolf

Big Bad Wolf Book Sale. Pertama kali melihatnya sekitar awal tahun 2017; seketika tertarik karena mengetahui bahwa itu adalah pameran buku berbahasa Inggris. Time went by dan BBW terlupa begitu saja. Akhir April lalu, akhirnya berkesempatan mengunjungi book sale yang katanya ditunggu-tunggu oleh banyak orang itu. 

Sebelum berangkat, ada satu berita negatif yang menurunkan minat: rame banget, ngantri untuk bayar bisa sampai satu jam! Wow! Tapi akhirnya kami (saya, suami, dan adik-adik) berangkat jua, dengan niat "Buat pengalaman. Kalau menarik ya bisa dateng lagi, kalau nggak ya, cukup tau aja". 

Mengingat kabar yang sudah terlanjur didengar sebelumnya, kami memutuskan berangkat di malam hari, sekitar jam8.30. Harapannya, sudah tidak terlalu ramai pengunjung jadi kami tidak harus mengantri lama kalau nanti akhirnya kami beli buku. Sesampainya di ICE, rupanya masih banyak pengunjung yang baru masuk ke area pameran. Surprise pertama: melihat tidak sedikit orang yang bawa koper ke dalam. Udah macem di bandara 😁

Di BBW ini, pintu masuk dan pintu keluar dibuat berjauhan; jadi pengunjung tidak masuk dan keluar dari pintu yang sama. Mungkin supaya tidak perlu berdesakan kali ya. Di dekat pintu masuk, kami disambut deretan buku berbahasa Indonesia, sebagian besar (atau malah semuanya) terbitan Mizan. Karena tidak ada yang menarik hati, perjalanan berlanjut ke area berikutnya. All english books.

Buku Apa Saja?
Di Big Bad Wolf, kita bisa menemukan buanyaaak sekali buku berbahasa Inggris; dalam berbagai bentuk dan rupa. Jumlah kategori bukunya juga lumayan banyak; mulai dari fiksi (yang masih terbagi menjadi general fiction, romance, classic literature, short-story with picture), buku kumpulan aktivitas untuk anak-anak, masak-memasak, bercocok tanam, kerajinan tangan, buku referensi (termasuk kamus), biografi, musik, hingga olahraga. Buku-buku dalam kategori yang sama diletakkan di satu keranjang besar dan diberi keterangan, sehingga mudah bagi pengunjung untuk mencari buku berdasar kategori.

Harga?
Buku-buku bahasa Indonesia yang dipajang di deretan dekat pintu masuk dibanderol mulai 15.000 rupiah. Sedangkan buku berbahasa Inggrisnya dijual dengan beragam harga; ada yang 30.000 rupiah, 50.000, 65.000, 85.000; sampai 300.000 rupiah juga ada. Untuk novel (bagian yang koleksinya paling lama saya telusuri), rata-rata dilabeli harga antara 50-85.000.
Dan sejujurnya, saya nggak tahu harus bilang itu murah atau mahal 😁

Pelayanan dari Penyelenggara
Di dalam ruangan, banyak petugas yang berada di dekat tumpukan buku-buku. Mereka berpakaian khusus, sehingga mudah dikenali. Keberadaannya membantu para pengunjung yang ingin sekedar bertanya hingga minta dibantu untuk mencari buku tertentu.

Sedangkan untuk pembayaran, ternyata memang benar berita yang sudah sampai di telinga saya sebelum berangkat: antriannya panjaaang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.20an (pagi) saat kami akan membayar belanjaan buku, dan antrian masih juga panjang. Sebenarnya, jumlah kasirnya cukup banyak; tapi masih belum sebanding dengan jumlah pengunjung. Sudah begitu, antrian juga bergerak lambat. Ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh banyaknya buku yang dibeli oleh pengunjung. Untungnya, kami mendapat shortcut untuk membayar. Saat itu kami sudah berada di antrian selama lima belas menit, dan baru bergerak sekitar dua kali. Salah satu petugas menghampiri dan mengajak beberapa pengunjung untuk membayar di kasir lain; di area luar antrian. Alhamdulillah kami terangkut ke kasir spesial; jadi tidak perlu menunggu lebih lama lagi.

Begitulah, pengalaman belanja hingga dini hari di Big Bad Wolf. Maybe I'll come again next year if they have it in Jakarta. Overall, saya menikmatinya. Terutama karena ini pengalaman pertama ke bazaar buku sampai pagi. Menghirup udara dini hari rupanya seru juga. Minusnya, seperti mengelilingi book sale atau pameran buku pada umumnya, kaki pegel-pegel; ditambah kantuk yang membuat mata berat memilih-milih buku yang jumlahnya bejibun.

Malam sudah larut, tapi masih ramai pengunjung.
Nggak berdesakan sih, tapi RAMAI

Antrian udah mirip kaya di supermarket,
Bedanya, troli dan keranjang isinya buku semua

P.S. Sepengamatan saya, pengunjung membayar dengan kartu; entah debit atau credit card. Tapi kalau berniat memborong, mending gitu sih daripada bawa-bawa duit banyak di dompet.

Tuesday, 25 April 2017

Untuk Apa Bekerja?

Q: Buat apa kerja?
A: "Daripada gua bengong ga ngapa-ngapain, mending kerja!" -😅
A: "Biar dapet banyak duit, biar kaya, bisa belanja apa aja!" -si gemar belanja
A: "Supaya ilmunya kepake" 
A: "Untuk menafkahi anak istri", kata si kepala keluarga
A: "Untuk beribadah". Ini jawaban yang seringkali dibilang klise (klise: ide/gagasan yang sering dipakai) oleh beberapa orang 
"Kerja untuk apa?" tergolong pertanyaan yang sederhana secara struktur kalimat,tapi jawabannya bisa bermacam-macam, mulai dari yang sederhana hingga yang rumit. Tentunya orang bekerja mempunyai tujuan; yang bisa jadi unik ataupun klise. Ada yang cuma punya satu tujuan, ada juga yang tujuannya lebih dari satu.

Kerja Untuk Mendapatkan Rejeki (uang-red) (?)
Well, banyak orang meyakini bahwa rezeki berupa uang itu harus dicari, diupayakan. Salah satunya adalah dengan bekerja, sebagai apapun profesinya. Malah, sebagian orang berpendapat bahwa kerja itu ujung-ujungnya ya duit. Yang diharapkan pasti adalah duit; agar bisa memenuhi kebutuhan ini itu, supaya bisa melakukan ini itu, dan seterusnya. Begitukah?

Saya jadi teringat sebuah ceramah singkat dari Ustad Salim A. Fillah yang di dalamnya membahas tentang bekerja dan rezeki. Beliau menyampaikan bahwa rezeki yang berupa harta itu sudah dijamin oleh Allah, Sang Pencipta manusia. Jadi, ketika bekerja, sebenarnya bukan untuk 'mencari' - karena sudah dijamin-, tapi lebih untuk beribadah dan bersyukur. Jadi, jawaban klise di atas memanglah jawaban yang luar biasa bagus, jika benar datang dari hati.

Lebih jauh lagi, beliau menjelaskan bahwa rezeki itu kan bukan hanya uang, ada jenis lain seperti kesehatan, keluarga, anak, dan sebagainya. Jadi, jikapun kita sudah bekerja keras tapi hasil yang didapatkan terasa tidak sesuai, bisa jadi memang 'jatah' rezeki kita yang berupa harta hanya segitu. Namun, bisa jadi ada jenis rezeki yang Allah karuniakan untuk kita.

Jadi seharusnya, seharusnya ini ya, orang bekerja memang bukan semata mencari harta, uang. Paling tidak, itu bukanlah tujuan utama. Ada tujuan lain yang lebih besar maknanya daripada sekedar mendapatkan segepok uang segenggam berlian.

We Get What We Aim for
Kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan di awal ketika akan melakukan sesuatu. Jadi, sepertinya sayang kan ya, kalau bekerja 'hanya' untuk mendapatkan uang? *ngomong di depan kaca*

Friday, 14 April 2017

(Mungkin) Kita Terlalu Banyak Menunggu

Di banyak bagian dari kisah hidup kita, ada banyak waktu yang terpakai untuk menunggu.

Di stasiun,
Kita menunggu kereta datang
Kemudian menunggu hingga kereta berangkat
Ketika akan turun, kita menunggu antrian untuk bisa keluar dari rangkaian kereta
Menukarkan kartu, pun ada beberapa menit terpakai untuk menunggu

Di restoran cepat saji,
Antrian sudah menunggu.
Lalu ada saatnya kita akan menunggu makanan datang (bahkan di tempat makan cepat saji)

Di tempat janjian,
Terkadang teman janjian membuat kita menunggu beberapa lama sebelum akhirnya bisa memulai acara atau sekedar membuka percakapan

Di supermarket,
Sejumlah waktu kita habiskan untuk menunggu antrian di kasir,

Bahkan di toilet, tak jarang kita harus menunggu sekian lama demi bisa 'membuang' sesuatu

Di beberapa peristiwa, di banyak tempat, tanpa sadar kita sudah membiarkan waktu berlalu demi sebuah kata: menunggu.

*renungan saat menunggu kereta Duri-Tangerang 14/4/2017

5.50 PM: Menikmati Waktu

Di kala senja menjelang azan magrib, Beberapa orang sudah menikmati waktu di rumah, Beberapa masih berjuang mengendarai motor atau mobil...