Showing posts with label Corona. Show all posts
Showing posts with label Corona. Show all posts

Friday, 16 October 2020

(Akhirnya) Mudik di Masa Pandemi

Sejak pindah ke Jakarta, saya berusaha untuk pulang kampung ke Purworejo setiap tiga bulan sekali. Biarpun tidak lama di rumah, setidaknya sudah bisa ketemu Bapak (almarhum) dan Mamak (that's how I call my mom); alias "setor muka" kalau bahasa saya. Tahun 2020, satu kali sudah saya mudik, di awal tahun. Karena pandemi muncul, rencana mudik selanjutnya di bulan Maret pun kandas. Kebiasaan mudik 3-bulan sekali praktis harus ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. 

Sampai akhirnya, September datang. Cerita mudik dari sejumlah teman dan tetangga membuat saya ingin mencoba. Apalagi cerita itu dibumbui dengan "Jalanan lancar banget", "Nggak ada pemeriksaan kok", "Di kampung mah kayak nggak ada Corona"; semakin membara lah keinginan untuk pulang kampung. Rencana awal pulang di akhir bulan, sekalian ikut acara mendhak Bapak. Tapi karena tiba-tiba ada "libur" dadakan di agenda sekolah, saya putuskan untuk berangkat di hari Rabu, 8 September.

Jalanan Super Lancar

Rupanya bener, jalanan amat sangat lancar sekali. Sepanjang Jakarta-Purworejo, kami sama sekali tidak ketemu dengan macet kecuali antrian lampu merah. Bahkan suami yang biasanya pasti berhenti untuk tidur di sela perjalanan pun, kali ini kuat melek sampe tujuan. Ngantuk-ngantuk sih pasti ada😅. Total perjalanan? Kurang dari 12 jam, lewat jalur tengah dengan rute seperti biasa. Sebelas jam sekian menit. Amazing. Ini rekor perjalanan mudik naik mobil yang tercepat.

Jadi mikir, mudik tuh harusnya ya seperti itu: menikmati perjalanan tanpa macet. Bepergian tidak di saat yang bersamaan dengan orang lain. Coba kalau mudik lebaran bisa selengang mudik kemarin~ ~ ~ (You wish!)

Jadi mikir lagi, harusnya kita tuh nggak usah ya bermacet-macet mudik saat Idul Fitri. Pulang kampungnya tunggu yang lain udah pada balik aja.😁😁😁

Gimana rasanya mudik waktu pandemi?

Okay, kembali lagi ya ke topik. Selain jalanan yang lancar, mudik saat pandemi juga punya cerita lain yang membekas di ingatan. Ya, karena memang situasinya nggak normal, jadi kebiasaan baru pun muncul. Agak deg-degan, tapi seru.

1. Menghindari rest area

Selama perjalanan, kami berhenti empat kali tanpa berlama-lama; untuk isi angin ban, bensin, makan, dan sholat. Satu hal yang biasa dilakukan tapi kali ini dihindari adalah berhenti lalu keluar dari mobil di rest area. That's right. Rest area yang biasanya menarik hati karena bisa jajan di sana; kali ini tidak kami jadikan opsi untuk istirahat (sholat, makan, jajan); demi menghindari bertemu dengan banyak orang.

Jadi, kami memilih berhenti di tempat makan yang relatif sepi; itupun sudah masuk di area Kebumen; selepas ashar. Sedangkan untuk sholat, kami berhenti di Muhammadiyah Islamic Center di daerah Sruweng, Kebumen. Guess what? Masjidnya dikunci dong. Alhamdulillah tetep bisa sholat di teras masjid, dengan alat sholat sendiri. Bagusnya, di tempat ini disediakan sabun cuci tangan untuk pengunjungnya. Di samping masjid, ada juga minimarket, TokoMu namanya. Lumayan untuk sekedar beli es krim. 

2. Menggunakan masker dan hand-sanitizer

Standar ini mah ya. Masker hanya dilepas kalau sedang makan dan di dalam mobil. Serunya, di area Jawa Tengah, rupanya masker tidak se-populer di Jakarta; kami banyak melihat warga yang tidak menggunakan masker. Hmmm. 

Hand sanitizer yang masih full karena jaraaang dipakai di Jakarta, terpakai hampir setengahnya. Keluar mobil, pakai. Mau makan, pakai. Masuk mobil, pakai lagi. Begitu aja sepanjang perjalanan.

3. Bebersih setelah sampai di tujuan

Biasanya, sesampainya di rumah Purworejo, kami menghindari mandi karena alasan sudah malam 😅. Tapi mengingat kondisi pandemi, demi menjaga kesehatan kami dan juga Mamak, kami pun dengan sukarela bebersih, mandi; bahkan sebelum salaman. It felt good, tho. Ternyata mandi setelah perjalanan jauh itu menyegarkan; membuat tidur lebih nyenyak. hihi

Oya, desa saya masih menerapkan protokol kesehatan di era pandemi, meskipun saya perhatikan warganya tidak menggunakan masker saat melakukan aktivitas sehari-hari. Malam ketika sampai di rumah, ada dua orang pejabat setempat yang datang ke rumah. Mencatat identitas saya dan suami. Mungkin karena kami datang dari Jakarta; yang terhitung zona merah Covid-19. Selain itu, mobil pun disemprot dengan disinfektan. Alhamdulillah. 

--------         

Post Mudik

Kami terpaksa pulang ke Jakarta lebih awal dari rencana karena tiba-tiba ada pengumuman PSBB akan kembali diberlakukan. Perjalanan pulang ke Jakarta sama menyenangkannya; lancar tanpa tersendat sedikitpun. 

Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal di pikiran; yaitu tentang kondisi kesehatan kami dan Mamak, sebagai pihak yang kami kunjungi. Jadilah saya memantau kondisi Mamak sampai dua pekan setelah sampai di Jakarta. Alhamdulillah, semua sehat-sehat. Tenang deh, rasanya.

Yah, begitulah cerita mudik di masa pandemi kali ini; menyenangkan sekaligus mendebarkan. Menyenangkan karena jalanan lancar dan mendebarkan karena harus stay safe tidak hanya untuk diri sendiri tetapi memastikan orang lain juga aman. Anyway, saya bersyukur akhirnya bisa "setor muka" dan melepas rindu setelah hampir sembilan bulan absen. Setelah ini, Jakarta mau PSBB tiga bulan juga gapapa deh.😁

Corona, go away soon, please.

Thursday, 7 May 2020

#StayAtHome dan Segala Hal Baiknya

Ini sudah hari  ke-50sekian #StayAtHome, sejak diberlakukannya karantina dan work from home gara-gara Coronavirus outbreak. Jangan tanya seberapa bosannya. Biasanya #StayAtHome menjadi hal yang ditunggu-tunggu setelah beraktivitas selama lima hari. Sekarang sebaliknya.

Kalau cuma mikirin jeleknya, karantina pribadi yang dikuatkan dengan perintah lockdown dari pemerintah ini emang menyebalkan bagi mereka yang terbiasa keluar rumah untuk kerja, jalan-jalan, belajar di sekolah, makan di restoran, nongkrong, atau sekedar belanja di minimarket terdekat. Take me for an example. Tapi kalau dicermati lagi, sebenernya lockdown akibat Corona ini bisa jadi blessing in disguise, atau bahasa kerennya; ada hikmah di balik musibah. Apa iya? Coba ya kita bahas satu per satu.

1. Family time jadi lebih banyak
Untuk mereka yang harus bekerja, menuntut ilmu, atau beraktivitas lain di rumah, adanya lockdown atau WFH atau karantina ini membuat waktu bersama keluarga menjadi lebih banyak. Yang biasanya berangkat pagi pulang petang, jadi bisa lebih "santai". Yang tadinya tidak pernah makan siang di rumah bareng keluarga, jadi "dipaksa" harus makan bareng.

Kesempatan untuk berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya tentu bertambah pula, ngobrol-ngobrol dengan topik random, misalnya.   Seharusnya (iya, secara teori) semakin banyak interaksi, semakin lekat pula hubungan antar anggota keluarga.

2. Menghemat uang?
Bagi para jajaners, atau tukang jajan macam ogut, lockdown ini tentu membuat uang jajan jadi aman di dompet. Sekali dua kali lah order lewat aplikasi online, tapi jelas tidak sebanyak jika kondisi normal.

Sayangnya ini tidak berlaku bagi para pelajar yang masih mengandalkan uang dari orang tua untuk jajan, hihihi. Gapapa lah ya, toh makan udah ditanggung di rumah.

3. Punya waktu luang yang lebih banyak
Belajar atau kerja di rumah tentunya lebih fleksibel secara waktu. Kita bisa mengerjakan secepat mungkin untuk berleha-leha kemudian. Lain halnya kalau harus ada di sekolah atau tempat kerja, yang dibatasi oleh jadwal dan jam kerja.

Bahkan, sejumlah sekolah pun memangkas jam belajar siswa-nya; yang otomatis menambah waktu luang untuk mereka; juga gurunya, of course. 

Nah, waktu luang ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, semacam mempraktekkan resep baru, membaca tumpukan buku yang belum dibaca, menulis, mencoba hobi baru, atau berolahraga. Yang lebih bagus lagi, kita bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, seperti menghafalkan surat Qur'an yang baru, mendengarkan lebih banyak ceramah, memanjangkan doa, dsb.

Syarat punya waktu luang lebih banyak ini tentunya adalah disiplin dalam mengatur waktu. Ada juga yang malah blunder; menunda-nunda mengerjakan tugas, lebih berat main game, sehingga harus ngebut saat deadline sudah di depan mata. Ini sih, namanya jebakan waktu luang. Hmmmm...Rasanya pengen nunjuk diri sendiri. 😔

4. Latihan menahan diri
#StayAtHome memaksa kita untuk latihan bersabar. Bersabar untuk tidak keluar rumah kecuali ada keperluan mendesak. Bersabar untuk tidak bertemu langsung dengan teman-teman. Bersabar untuk tidak banyak mengeluh. Patience is a virtue; kesabaran itu salah satu kebaikan, ya kan? Yaaa, walaupun lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan, tapi it's worth trying!

Setidaknya empat itu lah, hal baik yang bisa diambil dari #StayAtHome. Semoga Corona segera pergi, kita bisa beraktivitas normal, tanpa meninggalkan hal baik yang sudah kita bangun selama #StayAtHome.

5.50 PM: Menikmati Waktu

Di kala senja menjelang azan magrib, Beberapa orang sudah menikmati waktu di rumah, Beberapa masih berjuang mengendarai motor atau mobil...