Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Sunday, 15 January 2017

Lima Nasehat dari Ali bin Abi Thalib

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah buku bergambar (semacam komik) berjudul 55 Mutiara Akhlak. Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi berbagai nasehat untuk membangun akhlak yang mulia yang disampaikan lewat ilustrasi menarik. Dari sekian nasehat, ada lima dari Ali bin Abi Thalib  yang sangat mengena di hati:

#1 Kekayaan sebenarnya adalah akal, kemiskinan yang sebenarnya adalah rusaknya akal.
Nasehat ini digambarkan dengan cerita suami-istri yang berboncengan naik motor. Si istri membeli pisang dari pedagang yang menjual dagangannya dengan gerobak, tanpa menawar harga yang disebutkan. Ketika ditanya 'Kok nggak nawar sih?'', si istri bilang: kalau di supermarket aja, dengan harga berapapun, kita tidak nawar, kenapa harus pelit kepada pedagang kecil? Ilustrasi kedua, ada seorang ibu bermobil yang menawar pisang (di pedagang yang sama) dengan harga yang tidak masuk akal.

#2 Jika engkau berjumpa dengan orang yang lebih muda berpikirlah pasti dosanya lebih sedikit darimu. Jika berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah pasti amalnya lebih banyak darimu. Sesungguhnya setuap orang pasti memiliki kelebihan.
Digambarkan dengan jungkat-jungkit yang diisi orang tua dan anak muda di masing-masing sisinya, nasehat ini jelas sekali mengarahkan agar kita tidak sombong dengan apa yang ada pada diri kita dan meremehkan orang lain. Selain itu, Ali bin Abi Thalib juga menyampaikan bahwa setiap orang itu memiliki kelebihannya; entah dia lebih muda atau tua daripada kita. Dengan mengetahuinya, kita akan lebih mudah menghargai orang lain, sekaligus menyemangati diri untuk terus berbenah. 
Yuk, cobain!

#3 Simpanlah perbendaharaan lidahmu seperti engkau menyimpan perbendaharaan emas dan uangmu.
Ngobrol adalah salah satu kegiatan paling mengasyikkan bagi beberapa orang. Bagi yang 'hobi' dan 'ahli' bicara, apa saja bisa dijadikan bahan pembicaraan. Ali bin Abi Thalib memperingatkan untuk berhati-hati dengan itu. Kenapa? Karena ada kalanya kata-kata yang keluar dari mulut bisa menyinggung orang lain, membuatnya marah, hingga berujung permusuhan. Kemudian, ada juga tutur kata yang terlalu berlebihan sehingga orang kehilangan rasa hormat kepada yang mengucapkannya; maka hilanglah kehormatannya. Ini sejalan dengan ungkapan mulutmu harimau-mu; kata-kata bisa membinasakan pemiliknya. Ngeri. Maka diam (menyimpan lisan dari kata-kata yang tidak perlu) ada saatnya menjadi pilihan terbaik.

#4 Orang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi orang yang berani.
Sebelum melakukan sesuatu, lumrah untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Akan tetapi, jika terlalu banyak lama mempertimbangkan ini itu, terkadang orang malah jadi batal melakukannya, tidak melakukan apa-apa. 

Ini adalah kutipan yang paliing berkesan di hati. Buat saya yang kadang lamaa dala memutuskan sesuatu, membacanya menumbuhkan keberanian untuk membuat keputusan. Tapi by the way, saya juga pernah dengar bahwa membuat keputusan dengan berani itu membutuhkan latihan, lho. 

#5 Jangan engkau menghadirkan keresahan esok hari pada hari ini. Yang demikian itu hanyalah akan menambah beban diri.
Yang ini masih agak berhubungan dengan nasehat di nomor empat. Diberi judul Kalah Sebelum Bertanding, nasehat ini digambarkan dengan cerita seorang yang hendak ujian di esok hari, tapi sehari sebelumnya dia sudah membayangkan akibat kalau dia tidak lulus ujian. Akibatnya? Dia justru menghabiskan waktu untuk fokus di perasaan takut; takut gagal ujian, takut orang tua marah, dan sebagainya. Padahal, seharusnya dia fokus belajar untuk menghadapi ujian. Rugi, kan?
---------
This is it! Ini dia bukunya! 

Penyampai pesannya adalah VBI_Djenggotten, yang memiliki karya serupa berjudul 33 Pesan Nabi (3 seri). Cover dan isinya menarik. Meskipun nasehat di dalamnya berbobot, tapi penyampainnya lewat gambar komik yang jenaka membuat buku ini menjadi santapan ringan yang mudah dipahami. Dan yang paling penting, pesannya sampai ke pembaca. 

Setebal 118 halaman, buku ini berisi 55 nasehat untuk membangun akhlak mulia. Temanya beragam, dari yang urusannya dengan diri sendiri hingga hubungan dengan orang lain. Selain dari Ali bin Abi Thalib, buku ini juga menampilkan nasehat dari Nabi Isa, Luqman Al Hakim, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Darda, Abdullah bin Mas'ud, dan banyak lainnya. Kesemuanya disampaikan dengan cara sederhana yang mudah dimengerti. 

Buku ini bagus dibaca oleh para remaja dan maupun dewasa bahkan orangtua; karena membenahi akhlak adalah pekerjaan bagi semua kalangan usia. Ehm. 

Sunday, 27 November 2016

Resensi: Tentang Kamu

Baru saja menyelesaikan novel terbaru Tere Liye berjudul 'Tentang Kamu'. Di awal, sebelum buku ini diterbitkan, seperti biasa Tere Liye woro-woro di fanpagenya; tentu saja di Facebook, satu-satunya akun media sosial saya yang paling layak disebut aktif. Ketika melihat judulnya, saya mbatin, novel ini akan berisi kisah romance, mungkin semacam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Setelah membacanya? Ternyata saya salah. Fiuh.

Tema besar dari novel ini, menurut saya, adalah tentang bagaimana kita menguatkan diri untuk menrima semua kesedihan yang menimpa kita, menjadikannya kekuatan untuk melangkah di fase selanjutnya. Tere Liye memakai istilah yang menjadi favorit saya: 'memeluk semua kesedihan'.

Setebal 524 halaman, Tentang Kamu menceritakan perjalanan Zaman Zulkarnaen, seorang junior associate (jabatan di bawah senior lawyer di sebuah firma hukum) di Thompson&Co., London; dalam menelusuri kehidupan seorang Sri Ningsih. Sri yang baru saja meninggal rupanya telah menitipkan amanat kepada Thompson&Co. untuk mengurus warisannya yang bernilai 19 triliun rupiah. Selain hasil kerjanya yang dinilai memuaskan, kenyataan bahwa Zaman dan Sri berasal dari negara yang sama, Indonesia, membuat pimpinan firma menyerahkan kasus ini pada Zaman.

Yang menjadi masalah dalam urusan warisan ini adalah tidak adanya informasi utuh tentang siapa yang menjadi ahli waris Sri Ningsih, untuk harta sebanyak itu. Maka dengan bermodalkan sebuah diary tua, Zaman memulai penelusuran hidup Sri mulai tanah kelahirannya di Sumbawa. Setelah itu, kisah Sri berlanjut ke kota Surakarta, Jakarta, London, dan terakhir di Paris. Di setiap kota tersebut, Zaman menemukan sejumlah kisah memilukan yang dialami Sri; mulai dari kehilangan ibu dan ayahnya, diperlakukan dengan tidak baik oleh ibu tirinya, dibenci oleh sahabat sendiri, hingga kehilangan anak-anak dan suaminya. Namun, di balik semua kesedihan itu, Sri Ningsih rupanya adalah sosok wanita tangguh yang selalu membuat orang-orang di sekitarnya terpesona dengan perilaku, kepribadian, dan kebaikannya.

Mengaduk Emosi
Di awal, cerita terasa sedikit membosankan karena baru menceritakan latar belakang dari Zaman. Namun, cerita novel ini segera menarik perhatian ketika Zaman memulai penelusurannya atas Sri Ningsih. Kisah sedih-senang satu demi satu diceritakan. Terselip pula kisah cinta asik antara Sri dengan lelaki Turki yang kemudian menjadi suaminya. Pokoknya, emosi pembaca dibawa naik turun sampai akhir cerita. Mengesankan.

Benang merah dari semua kisah Sri Ningsih juga baru terungkap di bagian akhir cerita. Waktu membaca perpindahan kehidupan Sri dari satu kota ke kota lain, ada satu pertanyaan yang belum terbayang jawabannya: kenapa Sri selalu melakukannya dengan tiba-tiba, tanpa disebutkan alasannya. Dan itu terjawab tuntas di bagian akhir cerita. Tere Liye berhasil 'menyembunyikan' benang merah cerita dengan baik sampai akhirnya 'hantu' masa lalu Sri dimunculkan kembali, demi menjawab teka-teki kpergian Sri yang selalu mendadak.

Seperti biasa, gaya bahasa Tere Liye di novel ini masih terasa, dengan pemilihan kata yang oke punya. Selain itu, bahasanya pun ringan, sehingga enak dibaca. Setelah membiarkan novel ini terbengkalai sekitar dua pekan (baru dibaca beberapa halaman lalu ditinggal karena sedikit kebosanan), akhirnya hanya butuh satu hari untuk melalap habis cerita, karena dorongan rasa penasaran akan ending-nya. Kalau ada satu hal yang ingin diprotes, itu hanyalah sampul bukunya yang bergambar sepatu. 😛

Pelajaran yang bisa dipetik dari novel Tentang Kamu ini? Ada beberapa, bagi saya:
* Jangan menganggap remeh orang hanya dari penampilan sekilas
* Teruslah belajar berbagai hal di luar bidang yang ditekuni; kalaupun tidak bermanfaat sekarang, siapa tahu akan berguna di masa depan
* Cobalah sesuatu (yang baru) meskipun itu terlihat mustahil; jikalau gagal, coba lagi. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil
* Berbuat baik lah kepada setiap orang; kita tidak tahu kapan kita membutuhkan siapa
* Bersedih karena sesuatu yang menyakitkan itu boleh, tapi tidak perlu berlarut-larut
* Kesedihan tidak perlu ditunjukkan kepada banyak orang

Kesimpulannya, novel ini sangat worth-reading alias layak dibaca.

Sunday, 1 July 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Novel Inspiratif dari Bang Tere Liye

RESENSI
Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang: Tere Liye
Nama Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Tebal Buku: 3, 1 cm, 20cm x 13 cm
Jumlah Halaman: 512 halaman

Sepotong Pesan dari Kau, Aku , dan Sepucuk Angpau Merah
Hidup ini selayaknya kotak misteri berisi gulungan-gulungan kertas, yang isinya hanya bisa kita ketahui apabila telah terbuka. Pun hidup ini mirip dengan sebuah puzzle, yang potongan-potongannta akan menjadi satu gambar utuh jika kita jeli menempatkannya. Kisah-kisah hidup yang terpisah jarak dan waktu terkadang saling berkaitan satu sama lain, memberikan hikmah bagi para pelakunya.
            Kedua perumpamaan hidup itulah yang coba digambarkan oleh Tere Liye dalam novel yang berjudul Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Novel setebal 512 halaman ini mengisahkan perjalanan cinta seorang anak muda bernama Borno dengan Mei, gadis keturunan Cina yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Judul novel sendiri merupakan inti dari cerita: Borno dan Mei yang terhubung oleh sepucuk angpau merah.
            Cerita dalam novel ini sebagian besar mengambil setting di Pontianak, lebih tepatnya di daerah sungai Kapuas dengan segala budaya airnya. Diawali dengan narasi khas Tere Liye di awal novel, selanjutnya novel ini mulai menuju inti dengan mengisahkan kematian ayah Borno yang mengguncangkan hati Borno kecil.
            Tak lama setelah kematian ayah Borno, cerita bergerak menuju kehidupan Borno sebagai seorang pemuda yang beranjak dewasa. Usai tamat sekolah menengah atas, Borno mulai menapaki dunia pekerjaan. Borno sempat menjalani profesi sebagai penyadap karet, penunggu tiket kapal besar yang menjadi musuh para penarik sepit, hingga pekerja serabutan  sebelum akhirnya meneruskan jejak sang ayah menjadi pengemudi sepit dan menjadi pemilik bengkel. Dari sini lah perjuangan cinta Borno dimulai.

5.50 PM: Menikmati Waktu

Di kala senja menjelang azan magrib, Beberapa orang sudah menikmati waktu di rumah, Beberapa masih berjuang mengendarai motor atau mobil...