Friday, 25 March 2016

Rindu

Hello, beaches ... Long time no see, huh?

Jimbaran 2011

Kuwaru, 2011

Anyer, 2014
Tanjung Pasir, 2014

       


  I think I miss you a lot, like A LOT.

Hope to see you, soon.

Gokusen, J-Drama

Sejak menjadi guru, saya mulai tertarik dengan hal-hal 'berbau' guru; mulai dari buku, website, sampai film bertemakan guru dan atau pengajaran. Sejak itu pula saya mengenal dorama Jepang berjudul Gokusen.

Kilas balik sedikit.

Dulu, waktu kuliah, menonton drama Asia sama sekali tidak akrab dengan keseharian. Jangankan itu, nonton film saja malas rasanya, karena lama dan bikin ngantuk. Time flies, tanpa diduga saya teracuni juga dengan drama Korea. Mulailah saya menonton beberapa drama Korea. Terus terang saya kurang suka dengan bahasa Korea.

Maka beralihlah saya ke drama Jepang, gara-gara adik ipar yang sangat tertarik dengan Jepang, and I think Japanese sounds better. Singkatnya, tertariklah saya untuk menonton drama berjudul Gokusen.

Gokusen 1
Gokusen adalah drama yang menceritakan tentang kehidupan di sekolah menengah atas; fokus pada interaksi guru dengan muridnya. Ada tiga season plus satu Gokusen the movie (yang hampir semuanya sudah saya tonton), masing-masing punya 10-12 episode. Ketiga season mempunyai plot yang mirip. Tapi uniknya, saya -yang sering gampang bosan-, sama sekali tidak merasa bosan menontonnya.

Tokoh utama dari sekuel drama ini adalah Yamaguchi Kumiko, keturunan Oedo family, keluarga yakuza, yang menolak meneruskan bisnis keluarga dan memilih menjadi guru seperti orangtuanya. Di sekolah, dia selalu ditugaskan menjadi homeroom teacher atau wali kelas 3-D. Kelas ini dikenal penuh dengan anak-anak 'istimewa'. Tampilan mereka tidak seperti murid pada umumnya: rambut panjang dan dicat, baju dikeluarkan, berantakan. Begitu pula dengan kelakuannya. Mereka banyak berkelahi, malas belajar, tidur di kelas, bermain bola di kelas, dan kelakuan 'minus' lainnya.

Di setiap season, ada lima murid yang menjadi tokoh utama (di season 3 ada 6). Mereka bergiliran ditimpa masalah, yang kemudian menjadi inspirasi jalannya cerita tiap episode.
Gokusen 2
Pada awalnya, mereka tidak menyukai, bahkan membenci, semua guru. Mereka selalu berkata bahwa guru tidak bisa dipercaya. Bagi mereka, semua guru sama saja.

Sampai akhirnya Yamaguchi masuk ke kelas mereka. Sosoknya sangat berbeda dengan guru lain. Yamaguchi menekankan prinsip 'Saya harus percaya kepada murid'. Dia juga tidak menilai anak muridnya hanya dengan melihat tampilannya. Yang lebih penting lagi, dia punya kepercayaan bahwa sejelek-jeleknya anak murid, mereka pasti memiliki sisi baik.

Hasilnya, anak-anak kelas 3-D sedikit demi sedikit mulai mendengarkan kata-kata dari wali kelasnya. Mereka memberikan nama panggilan Yankumi untuk Yamaguchi. Belakangan, di dua season berikutnya, Yamaguchi menganggap anak muridnya sudah mulai dekat ketika mereka memanggilnya Yankumi.

Gokusen 3
Masalah demi masalah pun muncul; mulai dari masalah keluarga, perkelahian dengan murid sekolah lain, hingga kisah percintaan murid. Hampir semua episode dari masing-masing season memunculkan scene perkelahian. Karena saya kurang suka adegan kekerasan, biasanya scene ini saya skip.

Kekurangan dari drama ini, menurut saya, adalah plot yang mirip-mirip di satu episode ke episode berikutnya, bahkan di dua season selanjutnya.

Ada adegan rutin yang hampir selalu ada di akhir setiap episode: Yankumi berlari menuju tempat murid-muridnya 'dihajar' preman-preman, membuka dua kuncir rambut, membuka kacamata, mengibaskan rambut, dan akhirnya bertarung menyelamatkan murid-muridnya. FYI, Yankumi punya skill beladiri yang luar biasa. Buktinya, dia selalu bisa mengalahkan para preman yang menyulitkan murid-muridnya, dengan tangan kosong.

Meskipun begitu, buat saya, drama ini worth watching. Selalu seru menonton Gokusen. Banyak adegan lucu dan mengharukan yang masih tetap membuat efek yang sama, bahkan setelah ditonton beberapa kali. Ditambah pemain-pemainnya yang good-looking, banyak pula pesan-pesan yang saya suka dari drama ini.

Apa pesannya? Next time on other notes of Gokusen, insya Allah.

Sunday, 20 March 2016

Keluarga Buah "Berry" (Part 1)

Sore ini melihat buah mirip strawberry, tapi bukan. Saya bilang cranberry. Sementara suami bilang blueberry; yang bikin saya pengen jitakin dia. Masa iya namanya blueberry, padahal jelas-jelas warnanya merah.hahaha

Akhirnya terpikir untuk mencari tau apa aja sih, nama buah di keluarga berry itu. Here they are.

taken from thetyee.ca
#1 Strawberry
Mungkin ini anggota berry yang paling terkenal. Rasanya yang asem-manis sangat pas untuk dijadikan berbagai olahan makanan atau sekedar pemanis hidangan. Katanya, buah ini berkhasiat untuk menurunkan kolesterol. Kandungan antioksidan dan vitamin C-nya juga bagus untuk tubuh.





#2 Blueberry
Sesuai dengan namanya, buah ini berwarna biru tua. Bentuknya bulat kecil. Menurut artikel yang saya baca di whfoods.com, blueberry ini mengandung antioksidan juga, sama seperti strawberry. Menurut penelitian, blueberry disebut bisa meningkatkan kualitas memori.

Mengutip dari authoritynutrition.com, buah yang rendah kalori-kaya nutrisi ini memiliki beragam manfaat; di antaranya membantu mencegah kanker, anti-aging fruit, menurunkan tekanan darah, mencegah penyakit jantung, membantu menyembuhkan ISK (Infeksi Saluran Kemih),dan mengurangi kelelahan otot setelah berolahraga.

daleysfruit.com.au
#3 Blackberry
Demi mendengar nama ini, pasti ingatan langsung tertuju pada salah satu jenis smartphone yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia.

Saya pun jadi penasaran, kenapa nama ini dipilih. Di dunia pernamaan produk, memilih nama yang tidak ada hubungannya dengan produk disebut-sebut beresiko. Tapi ternyata, nama BlackBerry kini mendunia, bukti bahwa buah yang juga kaya manfaat ini mendatangkan rezeki bagi pencipta produknya. (Sejarah penamaan BlackBerry bisa dilihat di sini http://www.canada.com/topics/technology/story.html?id=85473082-02e8-4296-80a8-d8bdd4901496)

Lalu lalu, apa manfaat blackberry? Hampir sama seperti dua anggota berry sebelumnya, buah berwarna hitam ini bisa mencegah penyakit jantung, stroke, kanker, dan menangkal radikal bebas melalui kandungan antioksidannya.

Jamblang/Duwet -agrinewsbd.com/

Oh iya, ada satu jenis buah di Indonesia yang sering disalah-sebut menjadi blackberry. Namanya jamblang, atau di daerah saya disebut 'duwet' (e seperti dalam kata lemah). Kalau di bahasa inggriskan, buah ini berganti nama menjadi 'Indian blackberry', karena memang berasal dari India. Dan ternyata, duwet ini beda keluarga sama blackberry.


Saturday, 19 March 2016

Yang Penting Beli (Buku) Dulu

Ini tulisan bukan tentang apa-apa, selain tentang buku. Tulisan ini terilhami kesenangan membeli buku yang kemudian membuahkan sebuah komentar yang cukup menggelitik "Beli mulu, dibaca juga kagak". Well.

Tahun-tahun belakangan ini, berjalan-jalan di toko buku atau pameran buku, menemukan buku bagus, dan kemudian membelinya adalah bagian hidup yang menyenangkan, Ada kepuasan dan excitement yang terasa. Puas karena menemukan buku bagus, dan excited karena bakal punya bahan bacaan. Yah, meskipun dompet kemudian menipis dengan cepat.

Persoalannya, oh tidak, tantangannya adalah ketika buku yang dibeli dalam jumlah besar dan jenis bukunya tergolong 'berat'. Berat di sini berarti selain novel. Kalau sudah begini, maka beberapa buku masih akan terbungkus plastik alias belum terbaca sampai saat beli buku berikutnya. Nah, kan.

Kalau ada pertanyaan dilematis saya yang muncul, maka itu pasti: Manakah yang lebih baik, "beli buku-baca semuanya-baru beli lagi"; atau "yang penting beli dulu, perkara baca mah nanti juga bisa"?

Ada yang bilang, mending yang udah dibeli itu dibaca dulu,baru beli lagi. Sayang kalau ujung-ujungnya itu buku nggak dibaca. Ini (mungkin) ada benarnya. Bisa jadi melihat tumpukan buku yang belum dibaca justru membuat hati terbebani dan malas membaca.

But if you ask me, saya sih lebih memilih 'yang penting beli dulu'. Ada beberapa hal yang mendasari pilihan ini, tentunya.

Pertama, ketersediaan buku. Ada kemungkinan kita akan kehabisan buku bagus kalau tidak segera membelinya, karena banyak orang yang menyukai buku tersebut. Kalaupun dicetak ulang, mungkin kita harus menunggu.

Kedua, ketersediaan uang. Jika anggaran untuk membeli buku tidak dipakai dengan alasan masih ada buku yang belum dibaca, bisa jadi uang tersebut akan terpakai untuk keperluan lain. Tidak mengapa juga sih, kalau memang kebutuhannya lebih penting. ^.^

Lagipula, kalau harus menunggu selesai membaca semua buku, boleh jadi pos untuk membeli buku sudah teralihkan karena kebutuhan yang bertambah banyak. Misalnya, bagi para jomblo atau yang sudah menikah tapi belum diberi amanah anak, dana untuk membeli buku (mungkin) tersedia banyak. Tapi ketika kelak menikah dan punya anak, pasti akan bermunculan kebutuhan lain, sehingga dana pembelian buku terpinggirkan.

Ketiga, waktu membaca yang seharusnya fleksibel. Mungkin saat membeli buku dan beberapa waktu setelahnya, kita tidak memiliki banyak waktu luang untuk membaca. Tapi nanti? Mungkin kita punya banyak waktu untuk membaca dan atau tidak mempunyai waktu dan dana cukup untuk membeli buku baru.

Jadi, ya, begitulah. Untuk urusan membeli buku, bagi saya mah 'yang penting beli dulu'. Anyway, masing-masing pasti punya pilihan yang tidak salah juga; bergantung pada kebutuhan dan prioritas.

Friday, 18 March 2016

Jarkom: Pesan Berantai

Hari ini ketika melamunkan tentang pesan di grup WhatsApp, tiba-tiba teringat sistem JARKOM yang dulu sering dipakai di kegiatan organisasi semasa kuliah. 

JARKOM, atau Jaringan Komunikasi, adalah sistem penyampaian pesan secara berantai dari orang pertama sampai orang terakhir melalui SMS (Short Message Service).

Contoh pesan:
Teman-teman, besok kita rapat ya jam.09.00 di basecamp. Jarkom: W-M-T-A-V-W.

Maka pesan ini pun akan bergerak dari satu handphone ke handphone lainnya dengan urutan: M mengirim ke T, T kepada A, A kepada V, dan terakhir V kepada W. Mengapa pesan perlu dikirim ke W, yang notabene adalah pengirim pertama? Tidak lain adalah untuk memastikan bahwa pesan sudah sampai ke seluruh anggota jarkom.

Itu dulu. Dulu banget. 

Sekitar tahun 2006 sampai beberapa tahun kemudian, media sosial belum lagi sepopuler dan seheboh sekarang. Pilihan sosial media juga masih terbatas; bahkan friendster dan multiply.com masih diakses. Smartphone  yang menjadi media utama media sosial juga belum terlalu banyak beredar. Alhasil, bagi pemilik hape sederhana –seperti saya-, ada jarak yang perlu ditempuh untuk sekedar mengecek atau ngobrol via Facebook. Karena sedikit kerepotan itulah, medsos menjadi lebih jarang diakses. Maka jarkom via SMS menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Dibandingkan dengan sekarang, tentu sudah jauuuuuuuh berbeda. Satu pesan bisa sampai ke tangan banyak orang hanya dengan satu ketukan di layar hape. Sangat praktis.

Well, Jarkom memang tinggal kenangan; tapi keseruannya terkadang membuat rindu. Tidak semua yang terlihat menyulitkan itu akan menyisakan kenangan buruk ya, ternyata. 

Sunday, 4 January 2015

Tantangan Mudik di Akhir Tahun

Akhir tahun 2014 menjadi waktu yang sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang, termasuk saya. Orang kantor banyak yang mengambil cuti Natal dan atau Tahun, sedangkan anak sekolah juga sedang liburan. Liburnya dua pekan! Dua pekan!! *sengaja diulang biar dramatis* Imagining that I won't need to prepare anything to teach for two weeks had made me excited.

25 December was the day! Setelah mengusahakan tiket kereta yang 'layak' tapi gagal, akhirnya diputuskan kami memakai mobil untuk pulkam; berharap kami bisa jalan-jalan di kampung dengan nyaman.

Tapiii...ternyata keputusan untuk mudik di musim liburan menyisakan sedikit penyesalan di kemudian hari. Sedikitnya ada tiga hal yang membuatnya demikian

Pertama, tentang sulitnya mencari tiket pulang, karena banyak orang berburu tiket yang sama. Moda transportasi favorit seperti kereta pasti menjadi primadona, karena harganya yang lumayan murah dan waktu tempuhnya yang singkat. Hasilnya, jika tidak buru-buru pesan, maka kemungkinan akan kehabisan. Sayangnya, kami termasuk yang selalu kalah cepat. 

Kedua, lalu lintas menuju kampung-kampung halaman cenderung padat. Resikonya? Waktu tempuh yang molor karena kepadatan atau bahkan kemacetan.

Rasanya begitu hopeless waktu kami bertemu dengan kemacetan di tol selepas Jakarta, sekitaran Bekasi. Mobil hanya berjalan sebentar diselingi berhenti lebih lama. Kami memperkirakan kemacetan masih berlanjut hingga menjelang tol Cikampek. Huft.

Tiga jam dari waktu keberangkatan, bahkan kami belum menyentuh area tol Cikampek. Rasanya sudah mau putar balik ke Jakarta saking hopeless-nya. 😭

Additional information, mudik kali ini, kami mencoba jalur selatan yg dikenal memabukkan karena tracknya yang harus mendaki gunung lewati lembah macam Ninja Hatori 😏

Awalnya, suami memang ingin mencoba jalur selatan; tapi kekhawatiran saya dan ibu mengurungkan niat baik itu 😁Tapi, melihat kemacetan di depan mata ditambah info yang didapat sebelumnya (bahwa kemacetan mengancam di jalur Cikampek-Cirebon), akhirnya kami berbelok ke jalur selatan.

Jalur selatan memang tidak selancar harapan kami. Lalu lintas sedikit tersendat di beberapa titik, seperti di tol Cipularang. Di gerbang tol Cileunyi bahkan terjadi antrian kendaraan yang mengular hingga 3km. Selain itu, di daerah Nagreg dengan kontur jalannya yang naik-turun dan belok-belok, deretan kendaraan juga seringkali terhenti. Satu lagi titik macet ada di sekitaran Wangon, yang biang keladinya adalah lampu merah. Gimana mau nggak macet? Lampu berubah dari  hijau ke merah hanya dalam dua kedipan mata 😌
Sisanya, alhamdulillah lancar jaya.

Kabar kurang menyenangkan datang dari teman suami, yang melewati jalur utara. Intinya? Macet merajalela. Antara merasa kasihan dan lega.

Kami sampai di Purworejo sekitar pukul satu dinihari. Yak, Jakarta-Purworejo memakan 18 jam. Rekor banget.

Oke, menuju poin ketiga. Rupanya kemacetan tidak hanya terjadi di perjalanan awal, tetapi juga di tempat tujuan lain. Jogja, for sure, adalah tempat tujuan favorit wisatawan. Dengan demikian, bisa diprediksi bahwa kemacetan juga akan melanda kota yang berhati nyaman ini. Dan benar saja, jalanan di kota Jogja padat. Jangan tanya di area Malioboro, tempat yang -bagi banyak orang- wajib dikunjungi. Saya sempat berencana menuju ke sana.

Menjelang jalan Malioboro, terlihat banyak kerlipan lampu mobil, pertanda banyak mobil di sana. Dengan mengucap”makasih deh”, saya pun mengurungkan niat untuk mlipir ke sana. Saying sekali.
Poin ketiga adalah tentang oleh. Bagi para wisatawan, tentunya kurang afdhol rasanya kalau liburan tanpa membawa pulang oleh-oleh. Demikian pula saya dan suami. Salah satu oleh-oleh yang kerap dipilih adalah bakpia.

Tibalah kami di Bakpia Kencana di daerah Ambarketawang. Bakpia ini rekomendasi dari kakak saya, mas Bayu. Rasanya memang enak, walaupun harganya memang lumayan mahal. Sayang beribu saying, stok bakpia habis. Kalaupun mau nunggu, varian rasa yang kami inginkan belum bisa diproduksi dalam waktu dekat.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk pindah ke Bakpia Jane, yang ada di Bagelen, Purworejo. Itupun hanya tersedia satu varian rasa saja.
Fiuhh.


Dengan mengesampingkan kelegaan karena sudah bertemu keluarga di kampung halaman, mudik di saat liburan ‘massal’ memang tidak recommended. Selain riuhnya pembelian tiket yang membuat kita nggak kebagian, jalanan yang cenderung macet, padatnya tempat tujuan wisata, dan ramainya tempat membeli oleh-oleh cukup menjadi bukti.    

Wednesday, 24 December 2014

Guru : Digugu lan Ditiru

Sebenarnya sudah cukup lama mengenal kepanjangan dari kata GuRu: diGugu lan diTiru; bahasa Jawa yang berarti bahwa guru adalah sosok yang akan dipatuhi (di-gugu) dan ditiru. Tapi baru belakangan ini saya merasakan dan meresapi sendiri makna . Yak, lebih tepatnya ketika saya sendiri kemudian memutuskan untuk menjadi guru di sebuah sekolah formal.

Sebelumnya, saya sudah mengajar matkul Bahasa Inggris umum di sebuah universitas dan sebuah lembaga bahasa Inggris, sebut saja LIA (nama sebenarnya). Awalnya, di kedua institusi ini, kesan menjadi seseorang yang diGUgu dan ditiRu belum begitu terasa. Namun, seiring waktu, saya pun menyadari bahwa murid itu memperhatikan guru; bahkan dalam hal-hal kecil. Saya ingat waktu itu ada murid yang berkomentar tentang gelang, jam tangan, sampai jilbab yang saya pakai.

Student: Miss, kok jilbabnya didobel sih? Kan susah, miss.
Me       : Engga ah, saya udah biasa soalnya. Jadi, ngga susah.
Student: Emang kenapa didobel. miss?
Me       : Kalau saya, supaya ngga nerawang. Kan kalau cuma selapis, masih keliatan. 
              Padahal tujuannya supaya menutup. Kalau masih keliatan, berarti belum ketutup dong.
Student: Iya sih, miss.

Dari situ saya sadar, murid pada umunya memperhatikan gurunya; entah itu dari cara mengajarnya, gerak-geriknya, ucapan, bahkan tampilan. Ini poin yang pertama.

Poin kedua, ada kemungkinan murid akan mengikuti apa yang dia lihat dari gurunya. Karena dalam proses pembelajaran, akan ada fase dimana seorang murid akan mendengarkan dan kemudian mempraktekkan. Contoh kecil saya ambil dari pengalaman sendiri. Sejumlah murid mengikuti gaya saya bicara dalam bahasa Inggris; entah itu karena mereka suka, merasa geli, atau iseng. No idea :)

Lain waktu, ada pula yang kemudian mengikuti cara saya belajar bahasa Inggris setelah saya menceritakannya di kelas. Sampai disini, satu sisi dari guru sudah terbukti: ditiru.

Poin ketiga adalah tentang bagaimana guru bisa digugu  atau dipatuhi. Beberapa kali saya sempat takjub dan geli sendiri waktu mengingat waktu saya meminta murid- murid untuk melakukan ini-itu;-mulai dari mengerjakan soal, bernyanyi, menggambar, bertepuk tangan, hingga melompat- dan mereka mau-mau aja.

Tapi mungkin memang gitu ya? Seorang guru tampaknya memang mempunyai semacam otoritas atau kekuatan yang otomatis dikenali oleh muridnya. Ini yang membuat perintah, permintaan, dan nasehat guru dipatuhi oleh si murid.

Lucunya, orangtua murid seringkali meminta guru untuk menasehati anaknya dengan berkata "Tolong dibilangin anak saya ya, bu. Kalau sama bu guru kan siapa tau lebih nurut". I said like: Is it really happening?

Hal-hal itu membuat saya ngeh kalau profesi guru bukanlah profesi yang biasa. Pekerjaannya jauh dari sekedar menyampaikan pelajaran di kelas. Ada tanggungjawab yang harus diembannya: menjadi sosok yang digugu lan ditiru. Apa jadinya kalau guru tidak memberikan yang terbaik dari dirinya?


5.50 PM: Menikmati Waktu

Di kala senja menjelang azan magrib, Beberapa orang sudah menikmati waktu di rumah, Beberapa masih berjuang mengendarai motor atau mobil...