Saturday, 21 December 2019

Belajar dari Wali dan Anak Murid

Bagi orang tua, seburuk apapun anak (di mata orang), dia tetaplah orang yang spesial dan berharga.

Hari ini dan kemarin adalah jadwal pengambilan rapor semester genap, saatnya saya (sebagai wali kelas) bertemu dan berbincang dengan orang tua, wali murid. Hari seperti ini selalu saya nantikan karena selalu seru rasanya ngobrol dengan orang tua anak-anak; mengetahui sisi lain anak-anak yang biasanya hanya saya temui di sekolah atau di luar sekolah secara terbatas.

Setiap cerita yang disampaikan, selalu memberi saya -yang belum menjadi orangtua ini- pengalaman dan pelajaran. Saya selalu percaya kondisi keluarga akan berdampak pada tingkah laku, akhlak, bahkan kemampuan anak di sekolah; akademik maupun non-akademik. Tetapi, terkadang sebagai guru, beberapa ada yang quick to judge; hanya melihat bagaimana kondisi anak di sekolah; which is ga salah dikarenakan terbatasnya pengetahuan guru tentang murid.

Dua hari ini, saya membuktikan apa yang saya yakini bahwa kondisi keluarga akan mempengaruhi anak-anak. Beberapa murid yang (terlihat) memliki hubungan yang baik dengan anggota keluarganya cenderung percaya diri, tidak banyak mengalami kesulitan di sekolah, dan lebih ceria. Tetapi ternyata tidak semua seperti itu. Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu lingkungan dan teman-teman. Ada yang tidak terlalu dekat dengan keluarga tetapi punya teman-teman yang baik; itu berimbas baik untuk si anak; dan sebaliknya.

Dari semua yang amati, ada satu pelajaran yang paling mengena di hati: "Bagi orang tua, seburuk apapun anak (di mata orang), dia tetaplah orang yang spesial dan berharga". Pelajaran ini datangnya dari ibu seorang anak murid yang secara umum (dianggap) tidak terlalu bagus di bidang akademik, doyan tidur di kelas, dan punya sikap yang masih jauh dari sempurna. Rasanya ingin menangis waktu si ibu bilang: "Si XX ini semangat saya bu". Maasya Allah. Ibunya bercerita tentang bagaimana si anak ini paling rajin membantu di rumah, mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, mengepel, belajar mencuci, bahkan membuat ayahnya (yang sedang terbaring sakit) tertawa. Terharu.

Aduh, betapa sering kita menilai orang hanya dari yang tampak di mata kita. Padahal kalau mau berkenalan lebih lanjut, mungkin ada hal lain yang bisa kita lihat. Menjadi wali kelas bukan hal yang mudah, tetapi ada something extra yang menyenangkan: kesempatan untuk mengenali anak murid lebih jauh sekaligus belajar banyak hal dari mereka.

Thursday, 12 December 2019

Selamat Hari Lahir, Bapak.

Lagu Memories-nya Maroon 5 siang ini sungguhan membawa sedikit kilas balik tentang Bapak. Kebetulan pula hari ini adalah tanggal lahir Bapak, ingatan dan kenangan tentang beliau datang dengan sendiri, diiringi dengan rasa sedih yang menyeruak.

Iya, sudah tujuh puluh lima hari Bapak pergi, dan rasanya masih unbelievable. Tak terbayang rasanya nanti waktu pulang ke rumah dan ga ada Bapak di tempat tidurnya.

29 September 2019. I didn't see it coming. Well, I actually knew that time would come; the time when I would lose my dad. I just didn't see it coming that fast, in that morning. I was going to take ablution when I checked on my dad who was -I guessed- sleeping. I focused on his chest hoping to see that movement. I was relieved to see it. Then, I left, took wudhu and performed subuh prayer. Not long after it, Mom anxiously came to us, me-my brother-sister in law. We rushed to Bapak's bedroom and I didn't see that movement any longer. I was speechless; and even dumbstruck with sorrow when my sister-in-law confirmed that Bapak has passed away.

My last memory with him was when I fed him steamed singkong. When I wanted to take something, he said "Where'd you go?". Those were the last words -he could barely said- I heard. My dad, who used to have tall-strong body and loud voice, was at that time very skinny. His cheekbones, rib bones, were slightly seen. The diabetes has taken every single strength he had.

I never had the perfect dad-daughter relationship with Bapak. We disagreed a lot. I got angry many times. Maybe he felt the same about me. Despite those disagreements and anger, I believed we loved each other although we rarely showed it. My mom once said that no one would ever love me the way Bapak did. That's why when I got annoyed or angry at Bapak, I would recall the good deeds he had done for me and the family. It worked, every time.

When he got sick; getting worse from time to time, my kind-of-hatred feeling was gradually dissolving. I grew fonder of him. Still not a perfect relationship, but better. Seeing him on the bed, seeing how hard he could speak really broke my heart every time I visited our house in Purworejo. Now, it is so much more heartbreaking to be unable to see him anymore.

Selamat hari lahir, Bapak, untuk usia yang tidak sempat kau lewati. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Bapak, menunjukkan indahnya surga sebagai pemandangan sehari-hari. Allahumagfirlahu warkhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.



Wednesday, 3 April 2019

Perdana: Mudik Bersama Kereta Api Ekonomi Premium

Tanggal 29 Maret 2019 kemarin akhirnya saya naik kereta ekonomi premium Sawunggalih Pagi rute Pasar Senen-Kutoarjo. Saya bilang 'akhirnya' karena sebelumnya sudah beberapa kali maju-mundur (dan akhirnya mundur) untuk mudik dengan kereta ini.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak pengumuman munculnya kereta ekonomi premium. Alasan saya tidak segera mencoba kereta ini adalah karena khawatir keretanya tidak senyaman kelas bisnis yang biasa saya pilih. Terlebih, pengaturan tempat duduk yang berbeda.
Jadi, here it is, pengalaman saya naik kereta ekonomi premium.
~~~
Saya pesan tiket di tiket.com H-1. Untungnya masih bisa pilih nomor tempat duduk. Sebelumnya, saya sudah baca-baca tips memilih nomor tempat duduk yang kursinya menghadap ke depan, searah laju kereta. Menurut beberapa artikel yang saya baca, untuk tempat duduk nomor kecil (1-10) itu menghadap ke belakang dan 11-17 menghadap ke depan, untuk keberangkatan dari Jakarta ke arah timur. Ini berlaku sebaliknya.

Meskipun sudah tau harus memilih kursi nomor berapa, saya kembali sedikit khawatir saat membaca artikel yang bilang aturan bisa berubah. Duh. Karena sudah terlanjur beli tiket, ya sudah, there goes nothing lah.

Saat kereta datang, saya agak kaget karena kereta dengan tulisan 'Premium' di dekat pintu masuknya itu terlihat seperti berlapis seng, berkilau 😂. Rangkaian gerbong premium ada di belakang gerbong eksekutif. Of course.

Saya pilih kursi nomor 13D. Saat masuk dan mencari tempat duduk, lega rasanya karena pilihan tidak salah. Alhamdulillah tidak harus tidur sepanjang perjalanan karena puyeng.

Tempat Duduk
Tempat duduknya lebih mirip dengan kereta eksekutif, yaitu dua kursi terpisah (tapi dempet) yang bisa direbahkan, dengan sandaran tangan yang bisa dinaik-turunkan. Bedanya, kursi tidak bisa diputar dan ruang untuk kaki lebih sempit, pun tidak ada injakan untuk kaki.

Di depan kursi kita, lebih tepatnya tempat duduk orang di depan kita, terdapat kantong kursi (What should we call that?😁), seperti yg kita temui di kelas eksekutif atau pesawat kelas ekonomi. Jadi, kita bisa meletakkan barang kecil seperti tempat minum atau buku di kantong kursi tersebut. Lumayan membantu. Satu lagi, di kantong tersebut, kita bisa menemukan katalog menu makanan dan minuman yang bisa dipesan berikut harganya.

Oya, di bagian atas tempat duduk, di space antar jendela, ada cantolan, seperti yang ada di bagian bawah tempat nge-charge di samping tempat duduk. Bagus sih, tapi agak mengganggu pemandangan kalau banyak kresek atau tas bergelantungan di situ.

Pelayanan
Sama sih, seperti kelas bisnis atau ekonomi. Bantal dan selimut harus bayar lagi. Layanan makanan juga masih ada yang datang pergi seperti biasa. Begitu juga dengan petugas kebersihannya.

Fasilitas Umum
Toilet yang ada di kelas ekonomi premium ini ada dua, toilet jongkok dan duduk. Tempatnya ada di sebelah kanan dan kiri di bordes. Desainnya seperti di toilet pesawat ekonomi, sempit, tapi sayangnya berbau tidak sedap. Bahkan belum masuk toilet pun baunya sudah tercium. Eh tapi ibu-ibu yang duduk di samping saya bilang toiletnya wangi. Hmmm... mungkin karena beliau masuk di waktu pagi dan saya siang siang iseng ke toilet. Bagian ini definitely perlu perbaikan, sih.

Tempat untuk meletakkan tas tersedia di bagian atas sebagaimana biasanya. Tampilannya lebih seperti kereta eksekutif. Secara pribadi, saya lebih suka yang ada di kereta bisnis yang dibuat dari susunan besi jarang-jarang, sehingga kita bisa melihat tas milik kita hanya dengan mendongakkan kepala.

Siang hari, saya kepanasan. Entah hanya saya atau yang lain juga. Tapi ketika saya berjalan ke belakang, hawanya lebih adem. AC-nya (yang entah ada di mana) pilih kasih.

Goncangan
Saya pikir goncangan di kereta ekonomi lebih parah terasanya. Setelah perjalanan balik Jakarta saya naik kereta bisnis, ternyata terasanya sama.wkwkwk

Waktu Kedatangan
Tidak seperti kereta ekonomi biasa yang lebih sering tidak tepat waktu karena mungkin mengalah dengan dua kelas kereta di atasnya, Sawunggalih Pagi tepat waktu.

Harga Tiket
Karena ekonomi premium ini dibuat untuk menggantikan kelas bisnis, harganya pun tidak berbeda. Perjalanan perdana saya kemarin menghabiskan 250ribu rupiah. Iyaa, mahal kaan.
~~
Seperti itulah pengalaman perdana naik kereta kelas ekonomi premium. Selain tempat duduk, rasanya tidak ada perbedaan yang signifikan. Dann...secara umum, saya lebih memilih kereta bisnis, yang kini sudah susah dicari 😶 #backtokelasbisnisaja

Monday, 27 August 2018

Inspirasi-Momentum (untuk) Menulis

Beberapa hari yang lalu saya mencari-cari buku catatan random jaman kuliah -yang sampai sekarang masih menyisakan banyak lembar kosong- karena teringat satu materi yang bisa dipakai untuk ngisi materi muhasabah anak-anak. Ya, sekarang saya jadi wali kelas (lagi) setelah beberapa tahun berlalu.

Membuka lembar demi lembar, akhirnya ketemu sama dua buah cerita pendek yang hmm...begitu deh. Saya inget banget cerita pendek itu selesai ditulis dalam waktu singkat, satu atau dua hari. Daan..ditulis waktu sedang patah-hati patah-hatinya. Hahaha. Dan tidak sengaja, ending dari ceritanya adalah kematian dari pacar si tokoh utama. Sumpah, geli geli gimana gitu bacanya.

Nggak cuma cerpen; ternyata ada juga beberapa puisi patah hati. Aduhai.
---
Inspirasi-Momentum

Poinnya bukan soal patah hatinya, tapi tentang inspirasi menulis. Rupanya menulis terkadang bisa jadi lancaar jaya dalam kondisi tertentu. Kondisi yang menginspirasi, atau memotivasi. Momentum. Patah hati adalah salah satunya. Tentu saja masih banyak kondisi lainnya, yang seharusnya bisa memberikan inspirasi dan motivasi untuk menulis.

Nah, itu dia PR-nya: menciptakan kondisi yang menginspirasi dan/atau memotivasi untuk menulis; juga memanfaatkan momentum. Harusnya ketika hasrat menulis itu muncul, cepat-cepatlah direspon dengan membuat tulisan.




P.S. This post is an example of mine; untuk memanfaatkan momentum.

Thursday, 10 May 2018

Menyoal Pelajaran Lintas Minat

Pagi itu adalah hari pengambilan rapot semester dua kelas X. Sebelum bapaknya berangkat, Santi sudah berpesan: "Pak, pokoknya Santi maunya ambil jurusan IPS ya pak. Jangan mau kalau disuruh pindah jurusan sama bapak atau ibu guru". Bapak hanya tersenyum tak berkomentar. 

Ya, kala itu, penjurusan di Sekolah Menengah Atas baru dimulai di kelas XI. Jauh sebelum hari pengambilan rapot, sekolah sudah membagikan angket pemilihan jurusan. Santi menjadikan Bahasa sebagai pilihan pertama dan IPS pilihan kedua. Menurut kabar yang beredar, kelas Bahasa tidak akan dibuka karena peminatnya hanya empat; Santi adalah satu di antara keempat siswa tersebut. Maka, jurusan IPS pun menjadi tujuan.

Sebenarnya, nilai mata pelajaran jurusan IPA Santi tak jelek-jelek amat; bahkan tergolong cukup memenuhi syarat untuk bisa masuk ke jurusan IPA. Hanya saja, Santi tidak cukup percaya bahwa dirinya akan bisa menikmati belajar Kimia dan Fisika. Bagaimanalah pula dia akan menikmati, tiap kali Bu Retno, guru Fisikanya di kelas X, masuk; Santi sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan beliau. Alasannya hanya satu, dia tak mau diminta mengerjakan soal di papan tulis. Begitu pun dengan Kimia, malu hati Santi karena dia tak kunjung memahami pelajaran tentang ikatan kimia; sedang Bu Niken -guru Kimianya- masih tergolong saudara jauhnya. Karena itulah, Santi dengan mantap mencontreng Bahasa dan IPS di angket pilihan jurusan di akhir semester dua ini.

Tahun ajaran berganti. Tiba saatnya Santi membuat lembar perjalanan baru di sekolah. Dia masuk di kelas XI IPS 2. Lega rasanya, karena dia tidak akan bertemu lagi dengan Fisika dan Kimia yang lebih sering bikin  pusing kepalanya. Santi memperhatikan teman-teman barunya. Beberapa sudah sempat kenal. Santi berkata dalam hati, "Sepertinya mereka memilih IPS secara sukarela; bukan karena nilai yang tidak cukup untuk masuk jurusan IPA". Dan benar saja, seorang guru menyebut beberapa nama teman Santi yang menurut beliau layak masuk IPA tapi lebih memilih jurusan IPS. What a surprise.
Sayang, kelegaan Santi tidak bertahan lama. Sedetik setelah melihat jadwal pelajaran kelas XI; Santi menepuk jidat dan berseru dalam hati "Lho, kok ada Fisika lagi sih?" -the end-
---------- 
Sepenggal cerita di atas adalah gabungan dari kenyataan dan bayangan. Paragraf satu sampai empat adalah true story saya sendiri sedangkan paragraf terakhir adalah imajinasi jika kisah tentang memilih jurusan ini terjadi di tahun sekarang. Syukurlah itu hanya imajinasi. Saya tidak bisa membayangkan betapa masygul hati saya kalau harus kembali bertarung dengan Fisika saat saya sudah memutuskan untuk memilih jurusan IPS. 😆

Pelajaran Lintas Minat
Yaak, tulisan kali ini, yang menyoal pelajaran lintas minat, berisi opini dan sedikit ehm curhat. This all comes from a question which keeps running in my mind: Kenapa sih harus ada pelajaran lintas minat?

Di kurikulum yang sekarang, pelajaran lintas minat menjadi kewajiban. Itu artinya, mereka yang di jurusan IPA akan belajar mata pelajaran jurusan IPS; dan sebaliknya. Kebayang dong betapa kesalnya saya dulu kalau harus menjalankan kebijakan yang tidak bijak kurikulum ini. Lha wong milih jurusan IPS biar nggak ketemu Fisika, kok malah disuruh belajar Fisika lagi. Kira-kira begitu redaksi ungkapan kekesalan saya.

Seburuk itu kah pelajaran lintas minat di mata saya? Awalnya iya, dulu, sebelum saya bertanya pada beberapa siswa dan bapak kepala sekolah tempat saya mengajar. Ternyata, beberapa murid tidak keberatan dengan adanya pelajaran lintas minat (meskipun banyak juga yang mengeluhkan). Menurut bapak Kepsek, kebijakan ini menyiasati atau memberi jalan para murid yang sudah masuk jurusan tertentu tetapi ingin kuliah di jurusan yang 'menyimpang'. Misalnya, anak IPS yang berubah pikiran kemudian ingin mengambil jurusan Biologi di masa kuliahnya. Satu-satunya alasan terbaik hasil renungan saya adalah bahwa belajar apapun itu baik; minimal akan melatih otak untuk berpikir. Hey, there is always a positive side of learning!

But to be honest, saya lebih sepakat jika pelajaran lintas minat ini ditiadakan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan, antara lain, pertama, ada banyak mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa SMA; belasan. Terlalu banyak pelajaran yang harus dikuasai bukan hal yang bagus. Terlebih, sistem pendidikan kita masih tergolong 'mengagungkan' nilai. Meskipun tidak semua, banyak siswa yang merasa terbebani dengan ini; sudah pelajaran banyak, nilai diminta bagus semua. Hasilnya? Mereka yang tak berminat dengan pelajaran lintas-minat tersebut mungkin akan belajar sekenanya dan menghalalkan bermacam cara agar nilainya bagus. Mungkin lebih baik jika pelajaran jenis ini menjadi mapel 'pilihan'; jadi siswa bisa memilih mana yang sesuai dengan minatnya.

Kedua, kalau memang pelajaran lintas minat ini ditujukan untuk membantu mereka yang masih mau 'berbelok' dari jurusan yang sudah dipilih, kenapa tidak disiasati dengan pengarahan sejak awal? Permasalahan yang masih sering dijumpai di kalangan anak SMA adalah ketidaktahuan mereka akan minat dan bakat sendiri. Ini akan terlihat terutama di kelas XII, saat mereka akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Pengarahan sejak awal akan membantu siswa untuk fokus pada tujuan. Ketika mereka sudah punya tujuan, mereka akan memilih jurusan yang sesuai dan tidak perlu restart langkah lantaran ingin berganti haluan jurusan. 

Oh ya, saya sempat menjadikan 'pelajaran lintas minat' ini sebagai bahan untuk materi 'discussion text'; dimana saya meminta murid untuk menuliskan plus minus dari keberadaan pelajaran lintas minat. Sisi negatif yang banyak disebut adalah 'pelajaran lintas minat mengurangi fokus pada pelajaran yang menjadi karakter jurusannya'. Sedangkan sisi positif lebih standar, seperti menambah wawasan sampai sekedar 'jadi kenal dengan guru tertentu'.

Demikianlah curhat saya. Kalau perlu disimpulkan, maka intinya adalah saya masih merasa kurang sreg dengan keberadaan pelajaran lintas minat. Dan sepertinya akan perlu waktu yang cukup panjang untuk menemukan solusi terbaiknya. 

Thursday, 20 July 2017

Think Twice

Think twice,
Saat setumpuk kata caci maki siap ditumpahkan
Sungguh pertanyakan pada diri sendiri, perlukah?

Think twice,
Saat jari sudah mengetik status atau post di sosial media
Coba tanyakan, apakah bermanfaat?

Think twice, Ketika hendak mengeluhkan sebuah peristiwa menyakitkan,
Coba tengok sejenak, jangan jangan masih lebih banyak sebab untuk bersyukur daripada mengeluh

Think twice, Ketika mulut hendak mengomentari tingkah laku atau penampilan orang lain, yang kurang pantas menurut kata hati,
Siapa tau ada hal lain yang membatasi pandangan kita, sehingga komentar kita pun sebenarnya tidaklah akurat
Jangan jangan, dia yang ingin kita beri komentar ternyata lebih baik daripada diri kita

Think twice, Saat mata tertarik pada sebuah benda di toko online, entah karena rupa atau diskonnya.
Jangan jangan kita hanya lapar mata

Think twice, think again. Ada banyak keputusan dalam hidup kita yang perlu mempertimbangkan second thought atau pemikiran yang kedua. Bukan hanya keputusan yang super besar, tapi bahkan yang terlihat mudah dilakukan. Membuat keputusan itu, konon katanya, membutuhkan latihan. Dan latihan sebaiknya dimulai dari hal yang kecil. Begitu?

Thursday, 15 June 2017

Bahasa Indonesia Baku (yang Terpinggirkan) di Kalangan Remaja

Saya suka mengamati bahasa yang digunakan oleh orang-orang di sekitar saya: keluarga, saudara, teman, tetangga, termasuk juga murid-murid saya di sekolah. Bahasa selalu menarik karena sifatnya yang dinamis; tidak stagnan. Belakangan saya tertarik dengan penggunaan bahasa baku oleh remaja, murid-murid yang saya ajar di sekolah maupun di tempat les. Berikut ada tiga 'kasus' yang menjadi bahan bakar tulisan saya kali ini.

Case #1
Seperti tidak akan hilang dari ingatan, saat seorang murid 'senior' menanyakan arti dari kata 'lengah' dan saya syok. Bukan apa-apa, tapi saya mengira, 'lengah' adalah sebuah kata yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Kalaupun tidak digunakan sehari-hari, tetapi di lingkungan pendidikan, kata ini sering muncul di mata pelajaran pendidikan agama atau bahasa Indonesia.

Case #2
Di lain hari, saya mengoreksi tulisan murid yang ketika membacanya, saya berulang kali mengernyitkan dahi karena melihat susunan kata di tulisan tersebut: acak-acakan secara tata bahasa; sehingga membutuhkan sejumlah waktu untuk memahami maksud si penulis. Oh by the way, tulisan tersebut berbahasa Inggris. Saya pun berprasangka buruk bahwa si murid ini menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan tulisan berbahasa Indonesia-nya ke dalam bahasa Inggris. Langkah ini banyak ditempuh oleh mereka yang sedang dalam proses belajar bahasa.

Permasalahannya bukan terletak pada metode apa yang digunakan untuk menerjemahkan, tetapi lebih pada susunan kalimatnya. Setelah membaca tulisan murid saya di atas, iseng-iseng saya masukkan kalimat yang saya sebut acak-acakan tadi; English ke Indonesia. Hasilnya? Saya mendapati kalimat yang tidak baku di sana. Artinya bisa sekali dimengerti; karena memang itu bahasa sehari-hari. Sayangnya, Google Translate (mungkin) tidak kenal dengan bahasa non-baku, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tata bahasa di bahasa yang dituju (bahasa Inggris).

Case #3
Belum lama ini, saya menjadi pengawas di ujian kenaikan kelas. Sebagaimana biasanya, saya mengumpulkan lembar jawab pilihan ganda dan esai; dan memeriksanya sekilas. Mata saya tertambat pada sebuah kata 'ngedzolimin' di sebuah lembar jawab ujian. Jelas ini bukan bentuk kata baku. Mungkin saya yang kurang update, tetapi jawaban ujian biasanya menggunakan bahasa baku; bukan bahasa percakapan. Selain itu, saya juga menemukan penulisan kata 'kalau' yang ditulis ala bahasa chatting, yaitu 'kalo'.

Pembahasan
Secara keseluruhan, berdasarkan tiga peristiwa di atas; ditambah pengalaman interaksi sehari-hari dengan para remaja ini, saya menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia -yang notabene bahasa nasional di negeri ini- tidak lagi terlalu akrab dengan para remaja. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa percakapan yang bersifat non-formal alias tidak baku. Hal ini juga sejalan dengan terus bertambahnya kosa kata baru yang tidak termasuk tidak baku. Alhasil, ada sejumlah kata baku (dan tertera di Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang sangat jarang dipakai atau bahkan tidak dikenal oleh remaja masa kini.

So what? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penggunaan bahasa percakapan yang tidak baku. Bahkan di pergaulan jaman sekarang, mereka yang memakai bahasa baku dalam interaksi sehari-hari mungkin akan menjadi bahan olok-olok teman sebayanya, atau paling tidak akan disebut 'tidak lazim'. Yang salah adalah ketika mereka (pengguna bahasa non-baku) ini tidak lagi bisa membedakan waktu yang pas; kapan harus memakai bahasa baku atau bahasa percakapan. Padahal, di masa mendatang, ketika mereka kuliah atau bekerja, mereka harus bisa menggunakan bahasa Indonesia baku yang baik dan benar; untuk menulis makalah, surat, dan sebagainya.

Bagaimanapun, berbahasa adalah tentang kebiasaan; apa yang biasa kita ucapkan atau kita pakai, itulah yang akan sering kita pakai. Jangan-jangan, saking terbiasanya dengan bahasa percakapan yang tidak baku, bahasa Indonesia baku jadi terlupakan. That's what I am worried about.

5.50 PM: Menikmati Waktu

Di kala senja menjelang azan magrib, Beberapa orang sudah menikmati waktu di rumah, Beberapa masih berjuang mengendarai motor atau mobil...